Information

Selamat datang di website resmi Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Ashr. Masjid Al Ashr merupakan masjid yang berada di lingkungan site PT Vale Indonesia Tbk di Morowali, yang menjadi pusat ibadah, pembinaan keimanan, serta wadah mempererat ukhuwah Islamiyah bagi para pekerja.

Contact Info

Khutbah Jum’at: Jadikan Pekerjaanmu Ladang Pahala Agar Pekerjaan Bukan Sekedar Lelah & Letih

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن  لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمداً عبده ورسوله. لا نبي بعدي ولا رسول بعدي

يا ايها الذين امنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون

فان اصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم

Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala
Tidak ada nasihat yang senantiasa diulang dan diingatkan oleh para khatib di atas mimbar-mimbar khutbah selain nasihat untuk selalu bertakwa kepada  Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa. Sebab, takwa merupakan bekal terbaik yang diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk dipersiapkan dalam menghadapi kehidupan setelah berakhirnya kehidupan dunia ini. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
تزودوا فإن خير الزاد التقوى

“Bertakwalah kepada Allah dan berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”(QS. Al-Baqarah: 197)

Maka tidak ada bekal yang terbaik yang kita bawa menuju kehidupan akhirat kita selain dengan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita kemudian bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat yang Allah berikan kepada kita. Semua nikmat, kesehatan, kesempatan, dan yang lebih utama adalah nikmat iman, sehingga kita semua masih bisa melaksanakan salah satu rutinitas, bukan hanya sebagai kewajiban kita tetapi kebutuhan kita sebagai umat Islam, sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu melaksanakan salat secara berjamaah.
Dan semakin kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semakin akan Allah tambahkan nikmat-Nya kepada kita. Allah berfirman:
لئن شكرتم لازيدنكم ولئن كفرتم إن عذابي لشديد
Allah mengingatkan kepada kita” Sungguh, jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih
Q.S Ibrahim: 7

Maka, di antara ungkapan rasa syukur kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah dengan datang bersujud dan menghambakan diri hanya kepada-Nya.

Kemudian, kita bershalawat kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alayhi Wa Sallam sebagai suri teladan terbaik bagi kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة

Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah Sallallahu Alayhi Wa Sallam suri teladan yang sempurna. Maka, siapa pun di antara kita yang mencari teladan, baik sebagai kepala keluarga, sebagai seorang suami, maupun sebagai seorang pemimpin, hendaklah mencontoh Baginda Rasulullah Sallallahu Alayhi Wa Sallam.

Sebab, beliau adalah seorang suami, seorang kepala rumah tangga, seorang pemimpin, sekaligus seorang panglima perang yang mulia. Oleh karena itu, tidak perlu mencari teladan-teladan lain selain Rasulullah Sallallahu Alayhi Wa Sallam, karena pada diri beliau telah terkumpul seluruh keteladanan yang terbaik bagi umat manusia.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala

Kehidupan kita di dunia ini adalah kehidupan yang sangat singkat. Kita hidup di dunia ini hanyalah sementara. Oleh karena itu, Nabi kita Muhammad Sallallahu Alayhi Wa Sallam mengingatkan kita:
كن في الدنيا كأنك غريب أو عابر سبيل

“Hiduplah engkau di dunia seakan-akan sebagai orang asing atau seorang musafir yang sedang melakukan perjalanan.”

Dalam riwayat lain, Rasulullah Sallallahu Alayhi Wa Sallam memberikan gambaran bahwa kehidupan dunia ini laksana seseorang yang berteduh di bawah pohon untuk sesaat, kemudian ia meninggalkannya dan melanjutkan perjalanannya.

Maka demikianlah hakikat kehidupan kita, jamaah sekalian. Tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup kekal. Kita hidup di dunia ini hanyalah sementara. Bukankah seseorang yang sedang melakukan perjalanan ke suatu daerah, ketika ia singgah di suatu tempat, tidak bermaksud menetap di tempat tersebut? Ia hanya berhenti sejenak untuk makan, minum, dan mempersiapkan bekal sebelum melanjutkan perjalanan menuju tujuan akhirnya.

Demikian pula kehidupan kita di dunia. Kehidupan ini sangat singkat dan tidak akan berlangsung selamanya. Oleh karena itu, bagaimana kita memanfaatkan kehidupan yang singkat ini agar seluruh aktivitas dan kegiatan yang kita lakukan menjadi amal ibadah serta menjadi bekal yang akan kita bawa menuju kehidupan akhirat.

Di antara bekal terbaik yang dapat kita siapkan adalah menjadikan setiap pekerjaan yang kita lakukan sebagai amal ibadah yang bernilai pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh karena itu, pada kesempatan yang singkat ini, kami akan menyampaikan tiga pesan penting agar pekerjaan yang kita lakukan bernilai pahala dan dicatat sebagai amal ibadah di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pesan yang pertama, jamaah sekalian, hendaklah ketika kita keluar dari rumah-rumah kita, kita meluruskan niat. Kita niatkan langkah-langkah yang mengantarkan kita menuju tempat kerja, menuju kantor, menuju ladang usaha dan aktivitas kita, sebagai bentuk ketaatan kepada perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kita bekerja bukan semata-mata untuk mencari penghidupan dunia, bukan semata-mata untuk mengumpulkan harta, tetapi kita bekerja karena Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk berusaha, mencari rezeki yang halal, menafkahi keluarga, dan menjaga diri dari meminta-minta kepada orang lain. Dengan niat yang benar, maka pekerjaan yang pada asalnya merupakan urusan dunia dapat berubah menjadi amal ibadah yang bernilai pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jamaah sekalian yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Ketika kita berangkat bekerja, hendaklah kita meluruskan niat kita. Kita bekerja bukan semata-mata untuk mencari harta dan memenuhi kebutuhan dunia, tetapi karena hal itu merupakan perintah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk mencari rezeki yang halal dan menunaikan tanggung jawab kepada keluarga. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وعلى المولود له رزقهن وكسوتهن

“Dan bagi seorang kepala rumah tangga, bagi seorang suami dia memiliki kewajiban memberikan sandang dan pangan kepada keluarganya.”(QS. Ath-Thalaq: 7).

Ayat ini merupakan perintah bagi seorang suami dan kepala keluarga agar ia berusaha mencari nafkah untuk keluarganya. Oleh karena itu, jangan sampai pekerjaan yang kita lakukan setiap hari hanya menghasilkan rasa lelah dan letih, hanya menghasilkan tetesan keringat, tetapi tidak mendatangkan pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketika kita keluar dari rumah, hendaklah kita meluruskan niat. Niatkan pekerjaan yang kita lakukan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sebagai upaya menunaikan tanggung jawab yang telah Dia amanahkan kepada kita. Dengan niat yang benar, pekerjaan yang kita lakukan tidak hanya bernilai duniawi, tetapi juga menjadi amal ibadah yang mendatangkan pahala.

Bahkan, seseorang yang keluar dari rumahnya untuk mencari rezeki yang halal, lalu ia berniat menafkahi keluarga dan menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian Allah mentakdirkan ia meninggal dalam perjuangannya mencari nafkah tersebut, maka ia mendapatkan kedudukan yang mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini menunjukkan betapa besar keutamaan mencari nafkah yang halal apabila disertai niat yang ikhlas karena Allah.

Karena itu, jangan sampai kita setiap hari bekerja keras, lembur, menjalani shift siang maupun shift malam, menghabiskan tenaga dan waktu, tetapi yang kita peroleh hanyalah rasa capek dan letih semata. Jadikanlah setiap langkah menuju tempat kerja, setiap usaha yang kita lakukan, dan setiap tetes keringat yang mengalir sebagai amal ibadah yang bernilai pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pesan yang kedua, janganlah kita sekadar mencari gaji, tetapi berusahalah agar gaji dan penghasilan yang kita peroleh menjadi rezeki yang penuh keberkahan.

Seorang mukmin yang baik tidak hanya memikirkan besar kecilnya penghasilan yang ia terima, tetapi juga memikirkan dari mana harta itu diperoleh dan bagaimana agar harta tersebut mendatangkan keberkahan dalam kehidupannya. Sebab, tidak sedikit orang yang memiliki penghasilan besar, namun hidupnya tidak tenang dan hartanya tidak membawa manfaat. Sebaliknya, ada orang yang penghasilannya sederhana, tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan hartanya penuh keberkahan dan kecukupan.

Oleh karena itu, di antara cara agar pekerjaan dan penghasilan kita menjadi halal dan berkah adalah dengan memastikan bahwa pekerjaan yang kita lakukan merupakan pekerjaan yang halal dan diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jangan sekali-kali mencari rezeki melalui jalan yang haram, melalui penipuan, kecurangan, suap, korupsi, ataupun bentuk-bentuk usaha yang dilarang oleh syariat.

Rasulullah Sallallahu Alayhi Wa Sallam mengingatkan bahwa setiap daging yang tumbuh dari harta yang haram, maka nerakalah yang lebih pantas baginya. Karena itu, hendaknya kita berhati-hati dalam mencari penghasilan dan memastikan bahwa setiap rupiah yang masuk ke dalam rumah kita berasal dari jalan yang halal.

Jamaah sekalian yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Upayakanlah agar pekerjaan yang kita jalani dan penghasilan yang kita peroleh benar-benar berasal dari jalan yang dihalalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab, keberkahan rezeki tidak hanya ditentukan oleh jumlahnya, tetapi juga oleh kehalalan dan kebaikan cara memperolehnya.

Di antara sebab lain yang menjadikan rezeki kita berkah adalah jangan sampai kesibukan pekerjaan membuat kita lalai dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jangan sampai pekerjaan yang kita jalani menyebabkan kita meninggalkan shalat lima waktu atau menunda-nundanya hingga keluar dari waktunya.

Ingatlah, sehebat apa pun pekerjaan kita, setinggi apa pun jabatan kita, dan sebesar apa pun penghasilan yang kita peroleh, semuanya tidak akan bernilai di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala apabila kita mengabaikan kewajiban yang paling utama, yaitu shalat.

Sebab, amalan yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalat seorang hamba baik, maka baik pula amalan-amalan lainnya. Namun apabila shalatnya rusak, maka rusak pula amalan-amalannya yang lain.

Oleh karena itu, di tengah kesibukan bekerja, rapat, lembur, maupun menjalankan shift siang dan shift malam, jangan pernah tinggalkan shalat. Jadikan shalat sebagai prioritas dalam hidup kita, karena shalat bukan penghalang rezeki, justru shalat adalah sebab datangnya keberkahan rezeki dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Nabi kita Muhammad Sallallahu Alayhi Wa Sallam bersabda:

ان اول ما يحاسب به العبد يوم القيامة من عمله صلاته فان صلحت فقد افلح وانجح وان فسدت فقد خاب وخسر

“Sesungguhnya amalan seorang hamba yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Namun jika shalatnya rusak, maka sungguh ia telah rugi dan celaka.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Karena shalat, jamaah sekalian, adalah kunci diterimanya amalan ibadah kita. Maka sesibuk apa pun aktivitas kita sehari-hari dan seberat apa pun pekerjaan yang kita hadapi, hendaklah kita tetap berusaha menjaga dan mengerjakan shalat lima waktu.

Allah S Allah Subhanahu wa Ta’ala ubhanahu wa Ta’ala tidak melarang kita untuk mencari nafkah. Justru Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk berusaha dan bekerja.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فاذا قضيت الصلاة فانتشروا في الارض وابتغوا من فضل الله واذكروا الله كثيرا لعلكم تفلحون

Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.”
(QS. Al-Jumu’ah: 10).

Pesan yang ketiga, janganlah kita merusak niat dan amal kebaikan yang telah kita lakukan dengan sifat hasad dan dengki kepada saudara-saudara kita.

Terkadang di tempat kerja muncul berbagai bentuk hasad dan iri hati. Bisa jadi ada teman, rekan kerja, atau saudara kita yang masuk perusahaan hampir bersamaan dengan kita. Namun ternyata dialah yang lebih dahulu mendapatkan promosi, diangkat pada posisi yang lebih tinggi, atau diberikan amanah jabatan tertentu. Dalam keadaan seperti itu, terkadang muncul rasa iri dan dengki di dalam hati. Maka buanglah jauh-jauh sifat yang seperti ini.

Ingatlah bahwa setiap nikmat, kedudukan, dan karunia yang diberikan kepada seseorang adalah ketentuan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ذلك فضل الله يؤتيه من يشاء

“Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. Al-Jumu’ah: 4)

Oleh karena itu, ketika kita melihat saudara atau rekan kerja kita lebih dahulu diangkat pada suatu posisi atau jabatan, maka katakanlah, “Alhamdulillah.” Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan keberkahan kepadanya, dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengaruniakan kepada kita kebaikan yang serupa atau bahkan yang lebih baik sesuai dengan kehendak-Nya.

Janganlah kita merusak pahala dan amal kebaikan yang telah kita kumpulkan dengan menanam benih hasad dan iri hati di dalam diri kita. Sebaliknya, jadikanlah keberhasilan orang lain sebagai motivasi untuk bekerja lebih baik, meningkatkan kualitas diri, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan demikian, hati kita akan tetap bersih, persaudaraan akan tetap terjaga, dan pekerjaan yang kita lakukan akan menjadi amal ibadah yang penuh keberkahan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم

واقول قولي هذا واستغفرانه هو الغفور الرحيم

Khutbah Kedua

الحمد لله

الحمد لله رب العالمين

الرحمن الرحيم

مالك يوم الدين

اياك نعبد واياك نستعين

اشهد ان لا اله الا الله واشهد ان محمدا عبده ورسوله

اللهم صل وسلم وبارك على محمد وعلى آله ومن والاه أما بعد

Jamaah yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Ketika kita telah mengetahui bahwa pekerjaan-pekerjaan bisa menjadi amal jariah, bisa menjadi sumber-sumber perbekalan kehidupan akhirat kita, maka sebagai kesimpulan dari khutbah yang pertama, kami mengingatkan: jadikanlah tiga bekal yang kami sampaikan sebagai bekal kita dalam bekerja dan dalam keseharian kita.

Jangan sampai lembur-lemburan kita, shift pagi kita, shift malam kita, serta kerelaan kita meninggalkan anak dan keluarga di rumah, bahkan orang tua di perantauan, ternyata hanya menghasilkan pundi-pundi rupiah yang semua itu akan habis dalam kehidupan dunia ini. Dan tidak ada yang dapat kita bawa kecuali pahala-pahala dan amal ibadah.

Maka jadikanlah hidup yang singkat ini sebagai kesempatan untuk mengumpulkan bekal akhirat. Jadikanlah pekerjaan kita sebagai salah satu di antara ladang-ladang pahala yang dijanjikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta sebagai salah satu pemberat timbangan kebaikan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Akhirnya, marilah kita berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa mengistiqamahkan hati-hati kita di atas ketaatan kepada-Nya.

Di tengah-tengah kesibukan kita bekerja dan mencari nafkah yang halal, marilah kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar senantiasa memberikan keberkahan dalam rezeki, kemudahan dalam urusan, serta keikhlasan dalam setiap amal yang kita kerjakan.

Marilah kita juga berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semoga Dia mengampuni dosa-dosa kita, dosa kedua orang tua kita, dosa keluarga kita, serta menerima seluruh amal ibadah yang telah kita kerjakan.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan pekerjaan yang kita lakukan sebagai amal saleh yang bernilai pahala, menjadi bekal bagi kehidupan akhirat kita, dan menjadi pemberat timbangan kebaikan kita pada hari kiamat kelak.

اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الاحياء منهم والاموات انك سميع قريب مجيب الدعوات

اللهم اغفر لنا ولوالدينا وارحمهم كما ربونا صغارا

ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين

ربنا هب لنا من أزواجنا وذرياتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما

اللهم إنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

والحمد لله رب العالمين سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك

واخر دعوانا ان الحمد لله رب العالمين قوموا الى الصلاة


Khutbah Jumat: “Khutbah Jum’at: Jadikan Pekerjaanmu Ladang Pahala Agar Pekerjaan Bukan Sekedar Lelah & Letih”.

Disampaikan oleh Al Ustadz Abdullah Ramadhan, S. Pd. BA hafidzahullah 8 Rabi’ul Awwal 1448 H — Jumat, 21 Agustus 2026 di Masjid Al-Ashr PTVI IGP Morowali.

Share This:

Leave Your Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *